Insight – 2. The Routine

Insight – 1. Prolog

 

‘Habit and routine have an unbelievable power to waste and destroy.’

~Henri de Lubac

 

Ya, di sinilah aku terdampar. PT. Shittake. Terletak di salah satu kawasan industri di kota Bekasi. Aku bekerja sebagai staff Accounting yang mengurusi hutang PT. Shittake.

Pekerjaan ini membuatku banyak berhubungan dengan departemen lain dan vendor-baik lokal maupun overseas. Tak ada yang semenyenangkan saat me-reject dokumen yang salah, meladeni orang-orang dari departemen lain, mem-push orang-orang yang lamban atau bahkan saat aku balik memarahi vendor nakal yang selalu memaksaku untuk melakukan apa yang mereka mau. For heaven’s sake, I’m not working for you, dear, vendor.

I really can’t help myself. Di sini memang dituntut ketegasan. Kalau gak tegas, siap-siap aja, deh, jadi yang paling susah. Seriously, saat pertama kali masuk aku masih sangat lunak, and you know what? Orang-orang malah memanfaatkan kelunakanku. But people change, peeps. Enough is enough. Aku pun merubah cara bekerjaku (talk about improvement, eh?).

Orang-orang di sini memang egois, mereka berfikir asal mereka aman ya sudah, ngapain juga memikirkan apakah orang lain itu susah atau tidak. Makannya aku gak mau sok-sok manis dalam bekerja, bahkan atas nama tata-krama dan sopan santun sekalipun. 1 tahun cukup membuatku matang dan dapat membaca situasi dari flow pekerjaanku.

Dan bagian terbaik dari pekerjaanku adalah saat closing. Yeah, dikerjar-kejar deadline, pulang tengah malam atau masuk saat libur. Aku benar-benar menikmati itu.

Pagi ini, seperti biasa, aku selalu bingung akan memakai apa untuk ke kantor. Pilihanku tidak akan keluar dari blouse yang kadang aku modif dengan blazer, cardigan bahkan scarf. Untuk bawahan, aku biasa memakai rok pensil favoritku atau celana katun pensil. Aku hanya ingin memakai sesuatu yang nyaman dan tampil sebiasa mungkin. Nggak lagi-lagi, deh, diganggu abang-abang ojek atau abang-abang yang lagi nongkrong di pinggir jalan.

Akhirnya aku memutuskan memakai broken white ruffles blouse andalanku yang aku padankan dengan cardigan dan rok pinsil hitam favoritku. Untuk sepatu, hmmm, flats suede hitam saja deh. Nggak lagi-lagi juga pake platform pumps atau slingback heels. Aku sadar diri itu terlalu berlebihan.

Aku bercemin.

Perfect.” sahutku.

Aku meraih tote bag hitamku dari kasur. Lalu berangkat.

Setibanya di kantor, aku melihat Rifki, teman kerjaku yang sudah duduk di kursinya.

“Hai, Ki” sapaku kepada Rifki.

“Hai, Sya” balasnya sambil tersenyum lebar.

Aku menyimpan tote bag ku di atas meja kerjaku lalu menyalakan komputer. Log in di web PT. Shittake dan Yahoo Messenger. Tiba-tiba saja window chatting YM ku terbuka.

Rifki_88 : Buzz!!

Rasyaaa! : Yeeee.. Buzz, bazz, buzz!!

Rifki_88 : Tadi aku liat Vina! Anjiz, cantik banget hari ini!

Rasyaaa! : Gah!! Mulai deh.. masih pagi woyy 😡

Rifki_88 : Bodo amat! Pokonya hari ini dia cantik!

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala sambil nyengir. Rifki teman dekatku di kantor. Awalnya karena memang aku satu batch dengannya saat mengikuti training karyawan baru PT. Shittake. Bisa dekat karena memang sama-sama merasa sebagai anak baru dan berada di departemen yang sama. Pada dasarnya Rifki memang orang yang baik, terbuka, periang dan penuh pengertian. Dan yang membuat pertemanan ini berjalan dengan baik adalah karena kami tidak ada rasa saling suka satu sama lain. Sudah pada tahu selera masing-masing soalnya. Hehe.

Beberapa hal mengenai Rifki, dia SANGAT suka flirting. Contohnya, saat kami sedang mengobrol di tempat umum, dia masih sempat celingukan melihat wanita yang lewat lalu digodanya. Bahkan saat kami sedang berjalan pun dia sering menyolekku atau tiba-tiba memasang muka bodohnya sebagai respon saat dia melihat wanita yang sangat tipenya. Ckckckck. Membuatku ingin menyentuh kepalanya dengan kepalan tangan. Selain itu, Rifki SANGAT suka sepatu. Coba saja lihat koleksi sepatunya, ya ampun, tidak bisa dibandingkan dengan koleksi sepatuku yang hanya itu-itu saja. Dia bilang, “Good shoes take you to good places.” Aku membalas kaliamatnya sambil tersenyum sinis, “You mean, Pabrik?” Dia balas mengumpat, “Sial!”. Soal musik, dia juga mempunyai genre favorit. Berbeda denganku yang sangat menggemari hardcore dan turunan-turunannya, dia lebih nyaman dengan musik yang mengarah pada Britpop, Britrock dan Post-Rock.

Aku kembali mengetik jawaban di window chatting,

Rasyaaa! : Iye, iye, bebas deh. Mbok ya ngomong langsung kenapa sih sama Vina 😐

Rifki_88 : Udah ngomong juga kali, dia nya malah langsung pergi. Sial!

Rasyaaa! : LOL syukuriiiiinn!! LOLOLOLOL

Tiba-tiba seseorang menghampiriku. “Bisa ikut saya?” Aku menoleh. Gah! That man again!

“Sekarang.” lebih ke perintah daripada bertanya. Aku mengangguk lalu berdiri sambil mengerling ke arah Rifki. Dia balas menatapku dengan wajah prihatin.

Ahh, well, begin the routine.

(bersambung…)

Advertisements

~ by zkaeatworld on February 10, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: