Insight – 3. What was that supposed to mean?

Insight – 1. Prolog

Insight – 2. The Routine

 

‘If you love someone, set them free. If they come back they’re yours; if they don’t they never were.’

~Richard Bach

Aku mengikuti sosok lelaki jangkung berbadan tegap yang dengan repotnya sudah menghampiri meja kerjaku sebelum jam kerja dimulai. Aku tidak keberatan karena aku tahu yang akan dia lakukan atau bicarakan nanti tidak akan ada hubungannya dengan urusan pekerjaan.

Kami menuju kantin PT. Shittake yang cukup luas dan mampu menampung sekitar 1.500 karyawan. Suasana kantin pagi ini ramai seperti biasa, dipenuhi para karyawan yang sepertinya akan menikmati sarapan atau hanya sekedar mengobrol bersama rekannya sebelum jam kerja dimulai..

Lelaki ini terus berjalan-tanpa menghiraukanku, menuju pojokan kantin yang lebih sepi. Aku terus mengikutinya tanpa berbicara. Aku merasakan beberapa pasang mata memperhatikan kami.

Ck, MYOB, peeps.

Ia menarik kursi sambil mempersilahkanku untuk duduk. Aku pun duduk-masih tanpa berbicara. Lalu dia mengambil tempat di seberang tempatku, sehingga kami saling berhadapan.

“Mau sekalian sarapan?” Ia membuka percakapan.

“Enggak, tadi di kostan udah.” Balasku sambil tersenyum.

“Oke.” Dia lalu beranjak dari kursinya, melangkah menuju counter minuman dan kembali dengan membawa dua cangkir teh hangat.

Kantin kami berisi beberapa counter yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Mulai dari makanan tradisional atau makanan khas suatu daerah sampai makanan international yang di-adjust sedemikian rupa agar rasa dan harga dapat mengikuti selera dan kemampuan karyawan. Aku suka kantin yang seperti ini, variatif dan membuatku mempunyai banyak pilihan menu. Menu favoritku di kantin ini antara lain indomie rebus/goreng, karedok/lotek mentah, sop buntut goreng, sate maranggi dan capcay goreng. Rasanya benar-benar heavenly delicious di lidahku. Dan ajaibnya, semua menu tersebut dijual di satu counter bernama ‘Rupa-rupa’ yang terletak di pojok kantin-tepat di area tempatku duduk sekarang. Yeah, nama yang memang mencerminkan kevariatifan menu. Pemilikinya seorang bapak tengah baya bernama Pak Komar yang ditemani 3 karyawannya. He’s a nice guy for sure. Dan aku merupakan pelanggan tetapnya :).

“Ini.” Dia menyodorkan satu cangkir teh hangat yang masih mengepul untukku.

Hmmmm. Aku suka wangi teh.

“Makasih.” Jawabku.

Hening.

“Saya nggak akan maksa kamu buat ngejawab yang tadi malam itu.” Yeah, memang seharusnya begitu, celetukku dalam hati. “No need to hurry, mungkin memang saya terlalu cepat juga.” Tambahnya sambil tersenyum tanpa melihatku.

Aku mengerutkan kening.

Tadi malam, lelaki di hadapanku ini datang ke tempat kost ku untuk menyatakan cintanya. Kaget? Bukan main, tentu saja. Sempat bingung juga kenapa bisa-bisanya dia tahu tempat kostku dan berlaku seperti itu, mengingat hubunganku dengannya hanya sebatas rekan kerja antar departemen karena memang pekerjaanku berhubungan dengannya. Kasarnya sih ‘ngobrol aja jarang, kenal baik juga nggak’.

“Ya, buat saya itu memang terlalu cepat, Mas.” Balasku singkat. Aku tidak mau banyak berbicara yang takutnya membuat banyak asusmi yang salah. Dan sadar nggak sadar, aku jadi terbiasa menggunakan kata ‘Mas’ untuk memanggil semua pria yang belum terlihat tua di pabrik ini. Geez, man.

“Oke.” Dia mengerutkan kening lalu lanjut berbicara. “Bulan depan Extortion mau ke sini lho. Cuma di Jakarta sama Bandung aja sih konsernya, sayang kalau dilewatkan.”

Damn it! Dari mana sih dia bisa tau salah satu band yang aku suka. Aku mengerutkan kening. Sial, pasti Rifki nih. Habis ini mesti interogasi dia abis-abisan. Pokoknya aku nggak boleh terpengaruh. Siapa tau emang bisa-bisanya dia aja nyari info soal kesukaanku padahal dia sendiri nggak suka. Sial!

“Mau nonton? Udah lama juga nih, nggak datang ke acara musik.” Lanjutnya.

“Emang suka yang model-model Extortion gitu, ya?” tanyaku sambil menaikkan alis. Karena memang aku clueless soal lelaki di hadapanku ini. Sifat asli dan kebiasaannya saja aku nggak tahu, apalagi selera musiknya.

“Saya suka musik yang cepat. Kalau mau datang nanti bareng aja, kalau mau misah juga nggak apa-apa. Yang jelas saya pasti datang kok.”

“Oke. Gimana ntar aja Mas. Lihat situasi dulu.” Walaupun sebenarnya aku bakal mengorbankan apapun demi melihat dan menikmati band asal Australia itu.

Kembali hening. Ia mengambil cangkir yang berisi teh lalu meneguknya perlahan.

Dia mengatupkan bibir lalu termenung. “Soal yang semalam.. Nggak usah dipikirin ya. Saya minta maaf.”

Aku terkesiap dan hanya bisa membalas kalimatnya dengan anggukan kecil sambil menunduk.

Cangkir tehku masih mengepul.

 

Setibanya di meja kerja, aku buru-buru mengetik kalimat-kalimat di window chatting YM,

Rasyaaa! : Sial. Kok Mas Gilang bisa tau sih aku suka teh sama extortion? I assume this  is

                      your doing, Rifki. 😐 For heaven’s sake, aku gak kepikiran buat pacaran 

                     sama orang satu pabrik!! Super awkward!!

Rifki_88 : LOL. Santai dulu dong, Sya. Lagian kenapa mesti ribut sih. Kalo aku jadi cw,

                    aku mau deh pacaran sama Mas Gilang. Supervisor muda dan ganteng gitu

                    lho.

Rasyaaa! : 😐 You know me, Rifki. I’m not that shallow

Rifki_88 : Oke, oke. Jujur aja nih, ya, beberapa bulan yang lalu dia dateng ke meja aku

                     buat nanya-nanya soal report apa gitu ya lupa, nah itu aku lagi buka blog  

                     kamu, pas lagi bahasan apa itu ya, soal album Betrayed yang baru itu kalo

                     gak salah, tiba-tiba langsung nyimak gitu dianya. Ngambil mouse terus

                    dia scroll atas bawah pagenya. Aku kaget yang jelas. Gila aja jam kerja

                    buka blog. Dia malah nanya, “Ini blog punya Rasya?”, aku jawab iya aja.

                    Mungkin abis itu dia jadi penikmat blog kamu. Wkwkwk.

Rasyaaa! : Sial 😐 Terus cuma karena sering baca blog aku, dia jadi tau aku banget, gitu?

                      Eh, tumben banget kamu inget nama band, tapi detail report sampe lupa.

                      Ckckckck.

Rifki_88 : Report gak penting keknya, makannya lupa :p. Lha, orang blog kamu isinya  

                     foto2 hal-hal yang kamu suka sama musik semua. Ya pasti ketahuan lah

                     kamu itu kayak gimana. Man, He know you so fuckin’ well. Padahal

                     sumbernya dari blog doang. Wah, aku nyontek cara dia ah buat dapetin

                    Vina. Kayaknya dia punya blog juga. Woohooo..

Rasyaaa! : F* Udah ah aku mau kerja! Sial!!!!

Rifki_88 : O.O

Gilang. Nama pria yang dengan repotnya sudah mendatangi meja kerjaku di pagi hari tadi. Salah satu supervisor dari departemen purchasing yang setahuku merupakan idola para wanita di pabrik ini. Tahunya, sih, nggak sengaja juga, saat aku berada di dalam kubikel toilet wanita, ada saja wanita yang membicarakan Mas Gilang dengan rekannya. Entah itu tentang penampilannya, kelakuannya yang cuek, senyumannya yang bikin para wanita meleleh dan hal-hal lainnya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Selain faktor karena aku belum mengenalnya dengan baik, hal yang membuatku tidak terlalu tertarik dengannya adalah karena aku sudah malas duluan dengan pria-pria idola wanita. Ya, mungkin aku terlalu dini dalam menilai Mas Gilang dan hanya mencuri dengar apa yang digosipkan oleh rekan-rekan kerja wanita di divisiku. Tapi aku benar-benar sudah muak berurusan dengan jenis pria seperti itu. Selain itu, aku pun pasti akan mendapat masalah dari para penggila Mas Gilang. Bukannya takut, aku hanya malas saja membuang tenaga untuk menghadapi hal-hal yang tidak penting. Urusanku sudah banyak.

Aku mengambil agenda dan melihat apa saja yang harus aku kerjakan hari ini. Inter-company Netting, ngecek invoice, manual payment, meeting cost saving. Hmmm, sepertinya akan pulang malam.

Aku mendownload data untuk mulai mengerjakan Inter-company Netting. Pekerjaan yang selalu menjadi favoritku. Berhubungan dengan sesama subsidiary yang tersebar di seluruh penjuru dunia memang sangat menyenangkan.

Cara dari Inter-company Netting ini simpel saja. Dalam satu periode, kita hanya membandingkan jumlah hutang dan piutang yang akan jatuh tempo pada periode tersebut terhadap semua subsidiary. Jika piutang lebih besar daripada hutang, kita akan menerima selisih amount, sebaliknya, jika hutang kita lebih besar daripada piutang, kita harus membayar selisih amount tersebut. Perkara pendistribusian amount yang sudah kita bayar untuk semua subsidiary, itu urusan Netting center. Netting center yang akan memantau jalannya Inter-company Netting dan membantu jika ada masalah.

Asyik dengan pekerjaan favoritku, aku diinterupsi oleh deringan telepon.

Fuck!

Aku benar-benar benci diganggu jika sedang serius mengerjakan sesuatu. Aku mengangkat telpon dengan tidak sabar.

Accounting, selamat siang, saya Rasya ada yang bisa dibantu?”. Mau tidak mau aku harus tetap mengikuti peraturan dalam menjawab telepon, walaupun saat amarah sedang memuncak.

Aku tidak mendengar jawaban diseberang sana. “Halo?” Lanjutku. Masih tidak ada jawaban. Damn it!!

Aku meletakan telepon pada tempatnya sambil menahan amarah. Easy, Sya, breath-in, breath-out. Lalu melanjutkan pekerjaanku.

Selang beberapa detik, telepon berdering kembali.

Aku nyaris memelototi telepon yang secara instan sudah kuanggap sebagai musuhku. Lalu mengangkatnya dan kembali mengeluarkan kalimat “Accounting, selamat siang, saya Rasya ada yang bisa dibantu?”

Kembali hening. Benar-benar tidak ada jawaban diseberang sana. Aku membanting telepon sampai rekan kerja disebelahku-Windi menoleh kearahku. Fucking twice!! Umpatku dalam hati.

“Kenapa, Sya? Kok dibanting?” Tanya Windi.

“Ini yang nelpon aneh banget. Diangkat malah ga ngomong.” Jawabku.

“Oohh.” Balasnya.

Walaupun duduk bersebelahan, aku tidak begitu dekat dengan Windi. Bagiku dia cukup baik. Tapi tetap saja, hubunganku dengannya hanya sebatas basa-basi. Tapi entahlah. Aku memang tidak pernah mau ambil pusing akan perlakuan orang terhadapku. Selama mereka layak terhadapku, aku pun akan bersikap layak terhadap mereka.

“Oh, ya, Sya. Lagi deket sama Mas Gilang ya?”

Aku spontan menoleh ke arahnya. Sedikit menaikkan alis karena merasa heran dengan pertanyaan yang dia ajukan. What was that supposed to mean?

“Nggak, biasa aja. Cuma kenal doang. Kenapa?” aku balik bertanya.

“Tadi pagi aku lihat kamu berduaan sama Mas Gilang. Ya, nggak kenapa-kenapa, sih, cuma nanya aja.” Jawabnya sambil kembali menatap layar komputer, seperti akan melanjutkan pekerjaannya atau apapun itu, so careless.

Ada yang salah dengan tingkah Windi saat dia menjawab pertanyaanku. Akupun kembali menatap layar komputerku, tidak melanjutkan pembicaraan dengannya.

What was that supposed to mean?

Ah, well. Who cares.

(bersambung…)

Advertisements

~ by zkaeatworld on April 25, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: